aktaduma.com,Surabaya- MEREKA tidak hanya jago dalam ruang kuliah ber-AC dengan teori-teori yang menguras energi, tapi ikut turun membekali masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan alam sekitarnya luapan sampah rumah tangga.
Universitas Airlangga (Unair) di Kota Surabaya kembali menegaskan komitmennya terhadap pengabdian masyarakat melalui kegiatan pelatihan pembuatan eco enzyme yang dilangsungkan, Sabtu, 24 Mei 2025.
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi,khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat yang diikuti 20 peserta dari kalangan guru TK, SD, dan SMP yang tergabung dalam Yayasan Badan Pendidikan Kristen (YBPK) Cabang Wiyung, Kota Surabaya.
Pelatihan ini menghadirkan narasumber utama yaitu Drs. Tokok Adiarto, M.Si, yang adalah seorang edukator lingkungan dan penggerak eco living yang telah lama berkecimpung dalam pelatihan pengolahan limbah rumah tangga.
Dan, para peserta mendapatkan pemahaman menyeluruh tentang apa itu eco enzyme, manfaatnya bagi lingkungan dan kesehatan serta bagaimana cara membuat dan menggunakannya.Eco enzyme sendiri adalah cairan serbaguna hasil fermentasi dari limbah organic seperti kulit buah dan sayuran, dicampur dengan gula (gula merah atau molase) dan air dalam perbandingan 3:1:10.
Cairan ini memiliki beragam manfaat mulai dari pembersih rumah alami, perawatan kulit dan luka ringan, hingga peningkat kualitas udara karena menghasilkan ion negatif.
Yang membedakan pelatihan ini dengan seminar biasa adalah adanya sesi praktik langsung. Para peserta tidak hanya mendengar paparan teori, namun juga diajak langsung untuk membuat eco enzyme secara mandiri dengan bahan-bahan yang telah mereka bawa dari rumah.
Mulai dari kulit buah, potongan sayur, gula merah,hingga air dan semuanya diolah bersama dalam suasana antusias dan penuh semangat.
“Dengan melibatkan praktik langsung, peserta tidak hanya mengerti secara konsep, tetapi juga terbiasa memulai dari rumah. Kami ingin mengajak mereka menjadikan eco enzyme sebagai gaya hidup,” jelas Totok Adiarto dalam sesi praktik langsung saat itu.
Tak hanya cairan fermentasi yang bermanfaat, ampas dari eco enzyme juga bisa dimanfaatkan lebih lanjut seperti menjadi bantal terapi, pupuk tanaman dan bisa juga campuran kompos.
Dalam pelatihan ini ditegaskan pula bahwa dengan membuat eco enzyme, masyarakat turut mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA) dan memperkecil risiko pencemaran lingkungan akibat limbah organik.
Seorang peserta yang bernama Dwi Sianggraini, yang adalah guru SMP mengungkapkan rasa terima kasih dan antusiasmenya. “Setelah mengikuti pelatihan ini, saya sangat terinspirasi. Dari limbah dapur, ternyata bisa jadi solusi lingkungan. Ilmu akan saya tularkan ke siswa dan orangtua murid,” katanya penuh semangat.
“Saya sangat merasa terinspirasi dan mendapatkan banyak pengetahuan baru mengenai cara mengolah limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Pelatihan ecoenzyme ini, membuka wawasan saya tentang pentingnya menjaga lingkungan melalui eco enzyme. Jadi, sampah dalam kehidupan sehari-hari bisa bermanfaat,” tambah Dwi Sianggraini.
Dalam siaran pers yang diterima, Senin, 26 Mei 2025 menyatakan bahwa turut mendampingi dalam kegiatan ini adalah jajaran akademisi Unair yang terdiri dari Prof. Pratiwi Puji Astuti, Prof. Sri Sunarsih, Dra. Siti Wafiroh, M.Si, dan Dr.Handoko Darmo Musumo.
Melalui pelatihan ini, Universitas Airlangga di Kota Surabaya kembali menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat ilmu, tetapi juga agen perubahan sosial dan ekologis.
Dari dapur rumah dan dari sisa kulit buah, bumi bisa dijaga dan semuanya bisa dimulai hari ini. *** (Artikel oleh RTB)

