aktaduma.com, Atambua- Hadiri peluncuran program Teropong Akses Informasi dan Solusinya (TAIS Belu) yang digagas RRI Pro I Atambua Direktur Utama LPP RRI, Dr. I Hendrasmo, MA, menegaskan pentingnya peran media sebagai alat pemberdayaan masyarakat, terutama di daerah perbatasan seperti Kabupaten Belu.
Menurut Dirut Hendrasmo, media memiliki fungsi strategis dalam menjaga kesatuan ekosistem informasi dan menghubungkan wilayah-wilayah terluar Indonesia dengan pusat serta dunia internasional.
Kabupaten Belu, sebagai daerah terdepan yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, dinilai memiliki potensi besar dalam menyuarakan informasi lokal, khususnya terkait UMKM, budaya, dan kearifan lokal.
“Kita ingin Belu terhubung tidak hanya dengan pusat, tapi juga menyuarakan informasi dari sini ke luar. Produk UMKM, sosial budaya, dan kearifan lokal di Belu adalah hal menarik yang patut diketahui secara nasional bahkan internasional,” ujarnya, Rabu (07/08/2025).
Dirut RRI juga menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif RRI Atambua yang telah meluncurkan program TAIS Belu sebagai proyek perubahan yang fokus pada pembangunan desa berkelanjutan.
Program ini diharapkan dapat menjembatani keterbatasan akses informasi di desa dan memperkuat kolaborasi antarwilayah.
“Ini bentuk kesadaran teman-teman RRI Atambua bahwa membangun dari desa itu penting. Dengan akses informasi yang baik, desa bisa terlibat dalam ekosistem kolaboratif baik secara ekonomi maupun sosial budaya,” tambah Dirut Hendrasmo.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa RRI saat ini tidak hanya beroperasi melalui radio konvensional, tapi juga telah bertransformasi menjadi media multiplatform, dengan program-program interaktif seperti Halo RRI yang membuka ruang dialog antara masyarakat dan pemerintah.
“Program Halo RRI memungkinkan masyarakat menyampaikan persoalan dan harapan secara langsung, yang kemudian bisa kita respons dengan solusi nyata. Ini adalah bentuk interaksi yang membangun partisipasi publik,” jelasnya.
Dirut RRI juga menyinggung kemungkinan penguatan kerja sama lintas negara, terutama dengan Timor Leste, melalui program hiburan bersama, promosi UMKM lintas batas, serta pertukaran siaran budaya.
Hal ini, menurutnya, menjadi cara efektif memperkuat ikatan emosional dan sosial budaya antara dua bangsa yang memiliki kedekatan historis dan geografis.
“Kita punya jaringan kerja sama siaran luar negeri yang menjangkau Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, Thailand. Jadi promosi produk-produk UMKM Belu juga bisa kita dorong ke jaringan itu,” tutup Dirut Hendrasmo.

